Perbedaan Aqiqah Anak Perempuan dengan Anak Laki-Laki

      No Comments on Perbedaan Aqiqah Anak Perempuan dengan Anak Laki-Laki

Sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih, Muslim dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah setelah kelahiran putra putri mereka. Aqiqah sendiri memiliki hukum sunnah muakkadah dan ada pula ulama yang menegaskan wajib hukumnya beraqiqah bagi yang mampu.

Aqiqah sendiri merupakan menyembelih kambing di hari ke-7 pasca kelahiran anak. Lalu apa sajakah perbedaan antara aqiqah anak perempuan dengan anak laki-laki?

Syarat Aqiqah untuk Anak Laki-Laki Maupun Perempuan

pexels.com

Sebelum membahas tentang perbedaan antara aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan, tak ada salahnya kita membahas tentang apa-apa saja yang menjadi syarat pelaksanaan aqiqah ini terlebih dahulu. Beberapa syarat pada saat melaksanakan aqiqah antara lain

  • Disunnatkan memberikan nama serta mencukur rambut anak di hari ke-7 terhitung sejak hari keiahirannya.
  • Kambing yang disembelih untuk aqiqah  anak laki-laki berjumlah 2 ekor, sementara aqiqah anak perempuan berjumlah 1 ekor.
  • Aqiqah ini utamanya dibebankan pada orang tua anak tersebut, namun jugaboleh dilakukan keluarga lainnya.
  • Aqiqah hukumnya pelaksanaannya yaitu sunnah muakkad.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang paling terlihat dalam pelaksanaan aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan terletak pada anjuran jumlah kambing yang disembelih.

Perbedaan jumlah kambing ini bisa ditelusuri dari sejarah aqiqah yang terkait bagaimana kedudukan anak perempuan di masa jahiliyyah.

Mengapa Jumlah Kambing Sembelihan dalam Aqiqah Bisa Berbeda?

pexels.com

Pada masa sebelum Islam, perempuan direndahkan martabatnya bahkan dianggap tidak berharga di tanah Arab. Kala itu, kelahiran anak perempuan bahkan dipandang sebagai sebuah aib dan membuat malu seluruh anggota keluarga.

Hal ini juga tertulis dalam Al-Quran surat An Nahl 58 yang artinya “Dan jika seorang dari mereka dikabari dengan (lahirnya) anak perempuan, hitam merahlah mukanya, kemudian dia sangat marah.”

Setelah masuknya Islam, perbuatan seperti ini kemudian berubah dimana perempuan diberikan kedudukan yang mulia sesuai kodratnya. Salah satu wujud dari penghargaan Islam kepada perempuan adalah aqiqah untuk kelahiran bayi perempuan.

Tak hanya untuk bayi laki-laki saja. sampai dengan saat ini, kelahiran anak perempuan tetap dianggap sebagai sebuah karunia dan amanat yang harus disyukuri sebagaimana seharusnya.

Hanya saja, pada masa tersebut tetap saja bayi laki-laki lebih diharapkan. Tanpa mengurangi rasa syukur, orang tua yang menerima bayi laki-laki dinilai lebih berbahagia.

Inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa 2 ekor kambing dinilai sebagai ibadah aqiqah yang sepadan utnuk kegembiraan yang lebih tersebut. Perlu diingat bahwa jumlah 2 eor kambing untuk bayi laki-laki ini hanyalah sebatas anjuran dan tidak bermaksud untuk lebih memberatkan.

Akikah tetap menjadi perwujudan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran seorang anak dalam keadaan yang baik. Agar rasa syukur tersebut terwujud dengan baik, maka disyariatkanlah ibadah  aqiqah agar tidak ada perbuatan yang mengacu pada sifat berlebih-lebihan.

Rasa syukur diwujudkan dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing dan domba untuk kemudian diolah, disantap dan dibagikan kepada saudara, tetangga maupun golongan yang membutuhkan.

pexels.com

Terlepas dari itu, perbedaan jumlah hewan sembelihan ini berdasar pada riwayat Ummu Kurz Al-Ka’biyyah RA pada kitab Al-Muhadzzab karya Abu Ishaq As Sirazi terkait aqiqah.

Ia menanyakan tentang jumlah sembelihan untuk aqiqah tersebut kepada Rasulullah dan dijawab bahwa untuk bayi laki-laki 2 ekor kambing yang umurnya setara, sementara untuk bayi perempuan adalah 1 ekor saja.

Dalam kitab Al-Muhadzab juga dijelaskan bahwa “Akikah disyaratkan sebagai perwujudan nyata rasa bahagia atas kehadiran anak, sedangkan kebahagian atas hadirnya anak laki-laki adalah lebih besar. Sehingga jumlah sembelihan akikahnya pun lebih banyak.”

Inilah yang kemudian menjadi dasar pembeda jumlah kambing sembelihan. Namun patut diingat pula bahwa hal ini bukan berarti seseorang lantas kurang bersyukur atas kelahiran bayi perempuan, sebab nyatanya tetap dianjurkan melaksanakan aqiqah.

Dibalik itu semua, anjuran untuk aqiqah ini tidak boleh dianggap sebagai ebuah beban bagi para orang tua. Jumlah kambing sembelihan tersebut merupakan sebuah anjuran, dan bukanlah suatu  kewajiban yang akan menggugurkan ibadah sunnah muakkad tersebut.

Apabila orang tua hanya mampu menyediakan seekor kambing untuk sembelihan akikah saja bagi bayi laki-laki, maka tidak apa-apa sama dengan jumlah sembelihan untuk bayi perempuan. Ibadah aqiqah tetaplah sah.

Dengan demikian, apabila orang tua menghendaki ibdah aqiqah yang sempurna adalah sesuai dengan apa yang diriwayatkan tersebut. Namun apabila ada keterbatasan tertentu, maka mengaqiqahkan anak, baik itu bayi laki-laki maupun perempuan dengan seekor kambing juga diperbolehkan.

Anda juga tidak perlu segan untuk mengutarakan niatan tersebut kepada jasa aqiqah. Karena bagaimanapun, Anda telah berusaha untuk menghidupkan sunnah.

Demikianlah sedikit penjelasan tentang perbedaan antara aqiqah bayi perempuan dengan bayi laki-laki. Perbedaan jumlah kambing sembelihan tersebut dapat disimpulkan karena sejarah kehidupan masyarakat Arab pada masa lalu dan perasaan syukur yang lebih untuk kelahiran anak laki-laki.

Selain itu, persyaratan lain seperti jenis hewan, waktu, tata cara pembagian dan prosesi aqiqah tak jauh berbeda dari bayi laki-laki.

Nah, apabila Anda ingin mengadakan aqiqah untuk anak perempuan dengan cara yang lebih praktis bisa menggunakan jasa aqiqah Solo yang memiliki layanan dan menu lengkap sesuai selera. Layanan aqiqah online ini sering menjadi pilihan bagi masyarakat Solo dan sekitarnya dengan biaya terjangkau dan tetap sesuai syariat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *